Ada 7 Latihan Badani menurut St. Petrus dari Damaskus

Mengosongkan hati artinya segala indra sebagai pintu masuk kedalam hati. Hati adalah tempat tinggal Roh Allah dan di situlah kita berjumpa dengan Allah (Mat 5: 8). Di dalam Hati  manusia terdapat 3 kemampuan yang dirancang Allah yaitu untuk mengenal Allah dengan nous, mengasihi dan rindu pada Allah dengan hati itu sendiri dan memilih secara bebas untuk mengikuti Allah dengan Kehendak atau Kemauan. St. Maximus the Confessor mengatakan, tujuan dari nous adalah untuk memiliki pengetahuan akan Allah. Tujuan perasaan batin adalah untuk merindukan dan mengasihi Allah, dan tujuan kehendak adalah kemauan untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah. Jadi, dengan menjaga nous maka hati juga terjaga dari godaan luar  atau tidak ada tempat kediaman iblis untuk tinggal kedalam hati sebab kita sudah bersinergi kepada Kristus.

Hati menurut  para Bapa Gereja disebut sebagai “ruang penerimaan akan Tuhan” dapat juga menjadi tempat tinggal atau wadah kejahatan dan dosa ( Markus 7: 21-23). Hati adalah alam bawah sadar yang biasa disebut oleh para dokter jiwa atau psikolog. Hati adalah tempat yang digambarkan begitu baik oleh Rasul Paulus ketika dia berbicara hukum daging di dalam dirinya yang melawan hukum akal budi atau nous (Roma 7: 18-25). Di dalam hati mencurahkan kasih Allah oleh Roh Kudus, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita. Hati yang sama ini pula dapat menjadi tempat roh-roh jahat atau Iblis (Kisah Para Rasul 5: 3). Hati yang ada di tubuh manusia adalah sebagai pusat kediamannya Kristus tetapi jika hati sudah penuh kegelapan akan dosa yakni tidak ada tempat tinggal Kristus. Supaya ada tempat kediaman Kristus kedalam hati maka yang kita lakukakn adalah memurnikan hati dari dosa dan terus bersinergi dengan Kristus supaya tidak ada peluang kepada iblis untuk tinggal ke dalam hati kita.

Damaskus mengatakan ada 7 latihan badani;

Bentuk disiplin yang pertama ini terdiri dari keheningan, artinya menjalani kehidupan tanpa gangguan, jauh dari semua perhatian atau godaan duniawi. Dengan menyingkirkan diri kita dari kerumunan manusia dan gangguan, kita mengasingkan diri dari kekacauan dan dari iblis yang berjalan seperti singa yang mengaum, mencari siapapun yang dapat ia telan (1 Pet 5: 8), menghentikan omongan yang kosong dan kekhawatiran hidup. Sebaliknya, kita hanya memiliki satu perhatian bagaimana melakukan kehendak Tuhan dan untuk mempersiapkan jiwa kita agar tidak dikutuk ketika kita mati dan bagaimana dengan perhatian penuh untuk belajar tentang jerat iblis dan kesalahan kita sendiri yang, lebih banyak jumlahnya daripada pasir laut dan seperti debu dalam kehalusannya, berlalu tanpa disadari oleh kebanyakan orang. Jhon Apemea mengatakan kosongkanlah hatimu dan berjaga-jaga dari pemikiran jahat. Untuk menjauhkan diri dari dosa yakni kita menjaga nous dan hati sehingga tubuh dan jiwa kita tidak terjerat akan iblis. Jadi keheningan adalah menjalani kehidupan tanpa gangguan, jauh dari semua perhatian dan godaan duniawi dengan hidup berpusat kepada Kristus dan menguduskan Tuhan dari hati supaya nous kita tidak berikat pada pikiran-pikiran jahat.

Bentuk kedua disiplin tubuh adalah puasa, artinya kita makan dan minum sekali sehari dan kemudian tidak sampai kenyang. Kita harus makan satu jenis makanan sederhana dengan cara ini kita dapat mengatasi kerakusan, ketamakan dan hawa nafsu dan hidup tanpa gangguan. Jadi, puasa bukan sekedar kita lakukan secara jasmani melainkan melatih kerohanian untuk displin supaya tidak terikat dengan hal-hal dunawi.

Bentuk ketiga disiplin yaitu nepsis atau menjaga kewaspadaan, artinya kita harus tidur selama setengah malam dan separuh lagi kita harus mengabdikan diri untuk pembacaan mazmur dan doa, ratapan yang saling melengkapi. Melalui puasa dan kewaspadaan yang bijaksana ini tubuh akan menjadi lunak bagi jiwa, sehat dan siap untuk setiap pekerjaan yang baik, sementara jiwa akan memperoleh ketabahan dan iluminasi sehingga dapat melihat dan melakukan apa yang benar. Melalui pembacaan dan doa, kita dapat melatih tubuh dan jiwa untuk displin, sehingga kemalasan yang ada dalam tubuh dapat kita singkirkan karena kita telah memberikan makanan rohani bagi tubuh dan jiwa.

Bentuk keempat disiplin tubuh adalah pembacaan mazmur, artinya dalam doa yang diungkapkan secara jasmani melalui mazmur dan sujud. Ini adalah untuk membangkitkan semangat tubuh dan merendahkan jiwa, agar  iblis-iblis itu dapat melarikan diri dari kita. Dalam doa yang diungkapkan, kita dapat meminta belas kasihan Krsitus supaya hidup kita jauh dari dosa dan melatih jiwa dan tubuh untuk merendahkan diri dihadapan-Nya.

Bentuk disiplin ke lima terdiri dari doa spiritual, artinya doa yang dipersembahkan oleh nous dan bebas dari semua pikiran jahat. Selama doa semacam itu, nous terkonsentrasi di dalam kata-kata yang diucapkan dan dengan sangat menyesal dan meratap, ia merendahkan dirinya di hadapan Allah dengan hanya meminta kehendak-Nya dilakukan dalam semua pengejaran dan perbuatan. Jadi, doa bukan sekedardo kata-kata yang keluar dari mulut kita melainkan dari hati  untuk mempersembahkan kepada Kristus dan juga meminta belas kasihan-Nya melalui doa kita.

Bentuk keenam disiplin tubuh terdiri dari membaca tulisan dan kehidupan para Bapa gereja, tidak fokus pada doktrin yang sesat terutama bidat. Dengan cara ini kita belajar dari Kitab Suci ilahi dan dari disiplin para bapa bagaimana menaklukkan nafsu dan memperoleh kebajikan. Nous kita akan dipenuhi dengan pikiran-pikiran Roh Kudus dan kita akan melupakan kata-kata dan perbuatan yang tidak pantas yang kita beri perhatian sebelum menjadi biarawan. Selain itu, melalui persekutuan yang mendalam dalam doa dan membaca ,kita akan dapat memahami makna yang berharga karena doa dibantu dengan membaca dalam keheningan, dan membaca dibantu oleh doa murni selama kita memperhatikan apa yang dikatakan dan tidak membaca atau mempelajari dengan sembarangan. Jadi, melalui tulisan para Bapa gereja kita dapat membedakan doktrin yang benar dan sesat, kita juga belajar untuk menaklukkan segala hawa nafsu dan kedagingan yang ada ditubuh melalui doa yang murni.

Bentuk ketujuh dari disiplin tubuh adalah menanyai mereka yang memiliki pengalaman tentang semua pikiran dan tindakan kita, jika kita tersesat karena kurang pengalaman dan kepuasan diri kita, berpikir dan melakukan satu hal demi satu, dan menjadi sombong, membayangkan bahwa kita tahu seperti yang seharusnya kita lakukan meskipun kita masih belum tahu apa-apa, seperti yang dikatakan Rasul Paulus (lihat 1 Kor 8:2). Jadi, memiliki pengetahuan akan Tuhan bukan banyaknya teori yang kita miliki melainkan pengalaman hidup yang kita jalani setiap hari bersama Kristus.

Selain mempraktekkan ketujuh disiplin tubuh ini, kita harus dengan sabar menanggung semua yang Tuhan izinkan terjadi pada kita sehingga kita dapat belajar dan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang kelemahan kita. Kita seharusnya tidak tumbuh terlalu berani atau jatuh dalam keputus asaan, apa pun yang terjadi pada kita, baik atau buruk. Kita harus menolak setiap pikiran jahat dan setiap kata atau tindakan kosong, dan harus selalu merenungkan nama Yesus, setiap saat, di setiap tempat, di semua yang kita lakukan, sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada nafas itu sendiri. Dan kita harus dengan tulus merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, menarik nous dari semua pikiran duniawi, hanya mencari kehendak Tuhan yang dapat dilakukan.

Refrensi:

Leave a comment