NAMA : DIAN PURMAWATI WARUWU
TINGKAT : I (SATU)
M.K : SINOPTIK
TUGAS : KE-10
15 APRIL 2019
# Minggu zakheus
- Tentang merespon Anugerah Allah
- Menyucikan diri
Ini mengajarkan kepada kita bahwa ada anugerah Allah yang datang mencari kita, dan kita diharapkan seperi Zakheus yang mau merespon anugerah itu yaitu dengan iman. Merespon anugerah itu sama artinya dengan kita sedang membuka pintu yaitu membuka pintu hati supaya anugerah itu masuk. Pintu terbuka sama dengan iman iman kita menerima anugerah itu.
# Minggu orang Farisi dan Pemungut Cukai
Ini mengajarkan kepada kita bagaimana kita mau merendahkan diri kita seperti seorang pemungut cukai. Ia mau bertobat dari dosa (menyadari dosa-dosanya) dan mau berubah. Bukan sebaliknya seperti orang Farisi yang sombong yang tidak mau merendahkan diri di hadapan Allah. Karena itu dengan kerendahan hati kita meminta belas kasihan kepada Allah untuk menyucikan diri kita.
# Minggu anak yang hilang
- Anak hilang pergi untuk berfoya – foya
- Anak bungsu itu berpisah dengan Bapanya
- Anak bungsu kembali dengan Bapanya
- Mengalami pertobatan
Pertobatan artinya kita kembali kepada Allah Bapa kita. Kembali kepada Allah artinya kita menemukan kehidupan atau keselamatan itu. Tanpa kembali kepada Allah maka kita tidak ditemukan.
# Minggu penghakiman akhir Mat. 25:35-36
- Berbuat kasih
- Ada dua pilihan yaitu bangsa domba atau bangsa kambing
- Kalau menjadi bangsa domba harus berbuat kasih
- Mengampuni seperti pemungut cukai, Anak hilang dan seperti domba
- Perlu kasih karunia / Anugrah jika tidak ada kita tidak mengalami pertobatan dan tidak berakar. Maka kasih Allah itu sangat penting.
- Berakar di dalam tanah atau berakar di dalam Kristus. Supaya memperoleh kasih karunia sehingga hidup di dalam Kristus
- Berjaga – jaga dan berdoa LUKAS 21:36
Mengajarkan kita bagaimana kita berbuat kasih. Ada dua pilihan jadi kambing atau jadi domba. Kalau domba berarti kita harus berbuat kasih. Pertobatan itu harus disertai perbuatan. Semakin orang menyadari pertobatannya disitu ada buah-buah pertobatan itu. Contohnya Maria dari Mesir ia menjadi orang suci. Buah pertobatannya adalah ia mendapat pengampunan dan menjadi orang suci. Jadi, standar penghakiman akhir adalah kasih.
# Minggu Pengampunan Dosa
Tuhan mengampuni segala dosa kita syaratnya adalah kita juga harus mengampuni kesalahan orang lain dan berdamai dengan dosa atau sesama. Kita tidak dapat datang kepada Allah kalau kita belum berdamai dengan orang lain.
# Minggu Puasa
Ini dilakukan selama 40 hari. Di dalamnya juga terdapat beberapa hari yang penting;
- Minggu Ikon: kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Gambar inilah yang kita pulihan diproses supaya menjadi serupa dengan Kristus.
- Minggu Gregory Palamas: Untuk menjadi serupa gambar dengan Kristus kita perlu anugerah, tentu itu kita tidak bisa tetapi kasih karunia Allah itulah yang kita bisa serupa dengan Kristus. berarti kita dapat serupa denbgan Kristus kalau kita berakar di dalam Kristus. Sama seperti pohon semakin dalam ia berakar semakin kuat juga pohon tersebut, demikian juga dengan kita kalau kita kuat di dalam kasih anugerah Allah maka semakin kuat pula iman kita. Bagaimana supaya iman kita tetap kuat atau dengan kata lain supaya pelita kita tetap menyala sampai Kristus datang? Yaitu kita harus ada persediaan minyak. Minyak itu adalah anugerah Allah itu. Berakar di dalam Kristus supaya kita memperoleh kasih karunia itu. Inilah yang dimaksud dengan minggu kita berdoa dan berjaga-jaga (Luk. 21:36; Mat. 26:41).
# Minggu Penghormatan Salib
- Menjadi orang yang kudus
- Memikul salib
- Mengalami pertobatan
Kita harus mengikuti teladan Yesus. Bahwa tidak ada kemenangan tanpa penderitaan. Sebab kita dipanggil Allah kita bukan sekedar jadi orang baik tetapi kita juga harus kudus. Dan salib itulah yang menyucikan kita. Salib itu adalah penyaliban kedagingan dan mengingatkan kita bahwa kita menjadi serupa dan segambar dengan Allah meneladani Yesus.
# Minggu Maria dari Mesir
- Mengalami pertobatan 47 tahun
- Menangis à penderitaan (sakit>anak tangga)à kebangkitanà benih, akar, bertumbuh
Maria ini juga menjadi teladan kita, ia menangisi dosa-dosanya dan juga menderita. Perihal menangisi dosa-dosanya ini sama dengan perihal Yesus yang menangisi kota Yerusalem. Menangisi kota Yerusalem sama artinya bahwa Yesus sedang menangisi dosa-dosa dan juga menderita karena kita. Menangis artinya menangisi atau suatu penyesalan terhadap dosa-dosa yang telah dilakukan kemudian meminta pengampunan dari pada Tuhan dan bertobat. Menderita artinya ia sedang menjalani hukuman dalam penyaliban. Salib disini diumpamakan seperti anak tangga untuk menuju kebangkitan. Kebangkitan Kristus adalah sebagai bukti bahwa Ia menang atas dosa dan maut.
YESUS MEMASUKI YERUSALEM
Yohanes 12:12-19 Daun Palma dan Pakaian
- Mengharap mejizat
- Kenapa Tuhan membangkitkan lazarus
Kebangkitan Lazarus
Banyak orang menyaksikan kebangkitan Lazarus oleh Yesus di Betania dan kemudian mereka memberikan kesaksian tentang peristiwa itu kepada banyak orang di Yerusalem. Yesus membuat mukjizat: membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari ( Yohanes 11:1-44).
Gereja memperingatinya sebagai Sabtu Lazarus atau Kebangkitan Lazarus sehari sebelum perayaan Yesus memasuki Yerusalem pada hari Minggu, satu minggu sebelum Perayaan Paskah atau Kebangkitan Yesus. Dua perayaan ini saling berkaitan. Kebangkitan Lazarus adalah mukjizat besar terakhir yang dilakukan Yesus sebelum kebangkitan-Nya pada hari Paskah. Kebangkitan Lazarus adalah bayangan dari kebangkitan Yesus. Seperti peristiwa Transfigurasi Yesus di gunung Tabor (Mat 17:1-13) dimaksudkan untuk memperkuat iman para murid bahwa mereka mungkin dapat menanggung penderitaan yang akan datang dan kematian Yesus, demikianlah mukjizat kebangkitan Lazarus dimaksudkan untuk para murid sebagai suatu demonstrasi yang tidak terbantahkan akan kuasa dan kemenangan Kristus atas kematian. Sekali lagi Kristus mencoba untuk memperkuat iman para murid-Nya sebelum penderitaan-Nya, sehingga mereka dapat percaya bahwa Ia akan bangkit dari kubur seperti yang dilakukan Lazarus (Mat. 20:19; Mar 9:31; Luk 18:33). Namun, Yesus tidak berhasil meskipun Dia telah menubuatkan kebangkitan-Nya.
- kebangkitan Lazarus ini membuat banyak orang datang ke Yerusalem menyongsong Yesus (Yoh 12:18) dan menyambut-Nya dengan penuh sukacita. Mereka mengambil daun-daun palem (Yoh 12:13) dan menghamparkan pakaian mereka di jalan (Mat 21:8) sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”. Yesus disambut dengan luar biasa dan gemparlah seluruh Yerusalem (Mat 21:10). Yesus yang menunggangi seekor keledai muda adalah Raja Israel yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama: Mazmur Daud 118:25-26 dan Nabi Zakariah 9:9-10. Namun sebetulnya apa yang mereka harapkan dari seorang Raja Israel bukanlah Raja secara politik yang sementara melainkan Raja yang Kerajaan-Nya kekal selamanya mencakup seluruh penjuru dunia seperti nubuat nabi Zakariah.
- Orang-orang membawa daun palem melambai-lambai tetapi ini adalah sambutan yang diberikan orang kepada pemimpin militer besar, Yudas Maccabeus, ketika dia menaklukkan tentara Suriah dan mengambil alih Yerusalem (lihat 1 Makabe 13:51). Apakah Yesus ingin disambut sebagai pemimpin militer? Kerumunan menyatakan harapannya bahwa Dia akan menjadi Raja mereka. Mereka menyambut Dia sebagai orang yang datang dalam nama Tuhan: “Raja Israel.” Mereka mencari seorang raja Daud, seorang penakluk. Tetapi tanggapan Yesus adalah tanpa kata-kata. Dia justru mengambil binatang yang rendah hati, seekor keledai muda, dan naik ke Yerusalem untuk memenuhi perkataan nabi Zakharia bahwa seorang raja yang rendah hati, yang akan ditikam dan dibunuh, akan datang dengan menunggang keledai muda (Zak 9:9). Yesus sebagai Raja Israel adalah Raja yang rendah hati. Tunggangan keledai muda adalah kegenapan dari nubuat nabi Zakaria 9:9-10. Keledai muda di sini adalah simbol kerendahan hati sang Raja yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28).
- Kebangkitan Lazarus dan Yesus memasuki Yerusalem adalah masa Pekan Kudus atau Minggu Kesengsaraan Kristus yang puncaknya pada hari penyaliban dan kematian Kristus di atas kayu salib.
Anak-anak, Daun Palem, dan Pakaian
- Di dalam Ikon dilukiskan bahwa mereka yang memotong daun Palem, melambaikan daun-daun itu, dan menghamparkan pakaian mereka di jalan adalah anak-anak kecil bukan orang dewasa. Ini mengandung makna spiritual tentunya. Mengapa anak kecil? Yesus pernah mengajarkan, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Mk. 10:15 ITB)
- Daun Palem adalah simbol sukacita. Daun ini digunakan untuk menyambut orang-orang berpangkat tinggi seperti raja atau jenderal perang. Daun ini juga berfungsi sebagai simbol keberanian atau tindakan heroik. Demikianlah orang-orang berkumpul di gerbang kota untuk menyambut Tuhan menunggang keledai sebagai penakluk maut.
- Sebagian besar ikon menggambarkan Juruselamat mengendarai ke samping. Kepalanya sedikit diputar ke arah para Rasul yang berjalan di belakang-Nya atau ke Yerusalem. Tangan kanannya memberkati atau menunjuk ke kerumunan atau kota.
- Seorang penulis membayangkan apa yang pasti dipikirkan Yesus ketika ia pergi ke Yerusalem: Yesus nampak sepenuhnya berkonsentrasi pada sesuatu yang lain. Dia tidak melihat kerumunan yang bersemangat. Dia tidak melambai. Dia melihat melampaui semua kebisingan dan gerakan menuju apa yang ada di depannya: perjalanan pengkhianatan, penyiksaan, penyaliban, dan kematian yang menyakitkan. Matanya yang tidak fokus melihat apa yang bisa dilihat oleh siapa pun di sekitarnya; dahinya yang tinggi mencerminkan pengetahuan tentang hal-hal yang jauh melampaui pemahaman siapa pun.
Ada kemurungan, tetapi juga kedamaian. Ada wawasan tentang kekerasan hati manusia, tetapi juga belas kasih yang luar biasa. Ada kesadaran yang mendalam tentang penderitaan yang tak terkatakan tetapi juga tekad yang kuat untuk melakukan kehendak Allah. Di atas segalanya, ada cinta, cinta yang tak berkesudahan, dalam, dan jauh yang lahir dari keintiman yang tak terpatahkan dengan Allah dan menjangkau semuanya.
Penghamparan pakaian juga menyimbolkan atribut dari seorang raja yang diurapi (2 Raj 9:13). Karena Juruselamat adalah Yang Diurapi yang “Kerajaannya bukan dari dunia ini” (Yoh 18:36), pakaian dibagikan di hadapan-Nya oleh anak-anak bukan oleh orang dewasa. Anak-anak yang menyambut Dia sebagai Yang Diurapi yaitu Kristus.
Kita adalah anak-anak Allah yang melepaskan pakaian lama kita untuk menyambut Kristus dan mengenakan pakaian yang baru (Gal 3:27). Melepaskan pakaian lama adalah menanggalkan manusia lama dan mengenakan pakaian Kristus yaitu manusia baru (Efe 4:24). Pakaian Kristus yang kita kenakan mewajibkan kita untuk meneladani Dia.
Kita menanggalkan pakaian lama atau manusia lama kita yang penuh dosa, ikut menderita seperti Dia menderita, berjuang sampai akhir hidup, menyerahkan nyawa kita di atas kayu salib seperti Dia menyerahkan nyawa di atas kayu salib (1 Yoh 3:16). Sebab itu perintah Yesus jelas kepada pengikut-Nya, “Menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku” (Mat 16:24). Kita harus ikut menderita memikul salib, mengalami penyaliban daging beserta keinginannya (Gal 5:24) sampai pada puncaknya kita mati menyerahkan nyawa kita (1 Yoh 3:16) adalah wujud partisipasi kita dalam penderitaan Kristus (Kol 1:24). Hanya anak-anak yang demikian yang layak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun, di tengah perjuangan kita ada daun-daun Palem yang anak-anak Allah pegang. Ini adalah simbol kemenangan dan sukacita bahwa Kristus telah menang atas penderitaan, dosa, Iblis, dan maut sekalipun. Ketika kita mengikuti Kristus yang menang ini kita pun akan ikut menang seperti Kristus.
Ada daun Palem yang kita pegang setiap hari yang mengingatkan akan kemenangan Raja kita. Sebab itu Yesus juga mengajarkan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Mat 11:28-30)
Ada kontras antara anak-anak dan orang dewasa. Metropolitan Hierotheos berkomentar tentang perbedaan dalam menanggapi Yesus antara anak-anak dan bapak-bapak mereka: “Fakta yang paling bertentangan adalah bahwa anak-anak menyanyikan puji-pujian bagi Kristus sebagai Tuhan, sementara bapak mereka, para imam kepala dan ahli Taurat, menghujatnya.
Bapa Gereja Cyril dari Aleksandria membuat pengamatan yang sangat baik, menggarisbawahi perbedaan ini. Dia mengatakan bahwa anak-anak mengenali Tuhan ciptaan secara alami, sementara bapak mereka terbukti tidak berterima kasih. Anak-anak menyanyikan pujiannya sebagai Tuhan, sementara bapak mereka menyalibnya. Anak-anak menyanyikan hosanna, sementara ayah mereka berteriak “biarkan dia disalibkan.” Yang muda dan bodoh dibuat bijaksana, sementara yang bijak dibutakan. Anak-anak melempar pakaian mereka agar Kristus dapat lewat, sementara ayah mereka membagi atau membuang pakaian Kristus. Anak-anak menyambut Kristus dengan daun Palem, ayah mereka datang dengan pedang.
Anak-anak memberkati, sementara ayah mereka menghujat Dia. Anak-anak sebagai domba menerima gembala, tetapi ayah mereka seperti serigala melahap Anak Domba.”
Ada momen ratapan dalam prosesi Minggu Palma yang penuh sukacita ini. Ketika Yesus menyaksikan pemandangan Yerusalem dalam perjalanan turun dari Bukit Zaitun selama prosesi, Dia menangisi kota itu karena Dia meramalkan kehancuran yang akan menimpanya sebab penolakan kota itu atas Dirinya (Lukas 19: 41-44).
Hosana
- Kata “Hosanna” yang digunakan pada Minggu Palem adalah bahasa Ibrani dan berarti “Selamatkan, aku berdoa.” Kata ini berasal dari Mazmur 118: 25-27. Ini adalah sebuah nyanyian pujian yang dipersembahkan kepada Allah dan diartikan sebagai “selamatkan kami.” “Di tempat maha tinggi” menunjukkan bahwa pujian kepada Tuhan tidak hanya ditawarkan di bumi tetapi juga di ketinggian oleh para malaikat (St. Gregorius Palamas).
- Kata “diberkati” – “diberkati orang yang datang dalam nama Tuhan” – juga digunakan pada Minggu Palem untuk memperingati Yesus yang datang “dalam nama Tuhan.” St Nikodemos, orang Hagior mengatakan bahwa kata ini memiliki makna ganda. Ini digunakan untuk menunjukkan kekudusan yang berasal dari Tuhan dan diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Demikian juga, kata berkat digunakan untuk menunjukkan pemuliaan dan ucapan syukur kita seperti dalam mazmur: “Berkatilah TUHAN, hai jiwaku; dan semua yang ada di dalam diriku, berkatilah nama-Nya yang kudus ” (Maz 103:1).
- Kedua ungkapan ini memiliki makna kristologis yang dalam. Ungkapan “Hosana di tempat yang maha tinggi” menunjuk pada nama agung Ketuhanan, sementara frasa “diberkati yang datang dalam nama Tuhan” menunjuk pada kedatangan Mesias, yang sekarang memasuki Yerusalem dengan sedikit kesedihan.
Pohon
- Pohon di ikon memiliki arti ganda. Tujuan utamanya adalah bahwa itu adalah sumber dari cabang-cabang palem yang diangkut orang. Beberapa ikon menunjukkan seorang anak di dahan pohon yang patah. Tujuan keduanya adalah melambangkan “pohon” (salib) di luar tembok kota tempat Yesus disalibkan.
- Salah satu nyanyian Gereja untuk perayaan Minggu Palem mengatakan, “Dia yang duduk di atas takhta kerubim, demi kita, duduk di atas seekor keledai; dan datang ke Penderitaan sukarela, hari ini Dia mendengar anak-anak berseru, “Hosana!”