Tugas 3&4, Studi PB (Roma-Filipi)

Nama : Dian Purmawati Waruwu

Semester : IV

Mata Kuliah : Studi PB

Dosen : Hendi Wijaya

Tugas : ke-3&4

NOUS ALLAH DAN KRISTUS
1 K0RINTUS 2:6
τίς γὰρ ἔγνω νοῦν κυρίου, ὃς συμβιβάσει αὐτόν; ἡμεῖς δὲ νοῦν Χριστοῦ ἔχομεν. Teks itu adalah tubuh dibalik itu ada jiwa dan roh yang menuntun kita dalam keselamtan. Maka kita harus caritahu dia ngomong apa τίς γὰρ ἔγνω νοῦν κυρίου, ὃς συμβιβάσει αὐτόν; ἡμεῖς δὲ νοῦν Χριστοῦ ἔχομεν. Dan kita harus tahu susunannya dengan Syntantic form dan Struktur teks.
Parsing dan penjelasan τίς ὃς συμβιβάσει αὐτόν sebagai subjek ἔγνω νοῦν κυρίου sebagai prediket ἡμεῖς sebagai subjek νοῦν ἔχομεν Χριστοῦ sebagai prediket νοῦν=n, gen, masc,sing,acc of direct objek dari ἔγνω dan ἔχομεν κυρίου dan Χριστοῦ= n, gen, masc, sing, genentive of possessive dari kata νοῦν, menjelaskan milik νοῦν.
Terjemahan literal (tafsiran) Sebab siapakah menasihati Dia telah mengetahui Nous Tuhan? Tetapi kami memiliki nous Kristus.
syntantic content 1. Sebab siapakah yang menasihati telah mengetahui Nous Tuhan 2. Tetapi kami memiliki Nous Kristus.
Konteks histori Gereja korintus sedang menghadapi perpecahan. Salah satu penyebabnya adalah kesalahpahaman tentang berita injil (lihat 1:18-24). Rasul Paulus menuliskan untuk meluruskan. Untuk menemukan “pikiran Gereja” ini, di mana kita mulai? Langkah pertama adalah melihat bagaimana Alkitab digunakan dalam ibadat. Bagaimana, khususnya, pelajaran Alkitab dipilih untuk membaca di pesta yang berbeda? Langkah kedua adalah berkonsultasi dengan tulisantulisan para Bapa Gereja, khususnya St John Chrysostom. Bagaimana mereka menganalisis dan menerapkan teks Alkitab? Kita dapat menemukan banyak korespondensi lain antara Perjanjian Lama dan Baru dengan menggunakan konkordansi Alkitab. Seringkali komentar terbaik dari semua hanyalah konkordansi, atau edisi Alkitab dengan referensi silang marginal yang dipilih dengan baik. Hanya terhubung. Semuanya mengikat. Dalam kata-kata Pastor Alexander Schmemann, “Seorang Kristen adalah orang yang, di mana pun dia memandang, menemukan di mana-mana Kristus, dan bersukacita di dalam Dia.” Ini berlaku khususnya bagi orang Kristen Alkitabiah. Ke mana pun dia melihat, di setiap halaman, dia menemukan di mana-mana Kristus. Untuk berinteraksi dengan kitab Suci atau satu tujuan dimana Roh yang menyelesaikan kitab suci ini/ saling menjelaskan.
Ecclesial Mengapa dipandu oleh Bapa-bapa Gereja? St. Ignatii Brianchaninov memberi jawab: Dimana tidak ada “Tidak ada nubuat dari kitab suci yang memiliki interpretasi pribadi. Karena nubuat itu datang pada zaman dahulu bukan karena kehendak manusia, tetapi orang-orang kudus Allah berfirman ketika mereka digerakkan oleh Roh Kudus ”(II Petrus 1:20, 21). Jadi bagaimana Anda ingin menafsirkan secara sewenang-wenang kata-kata spiritual yang diucapkan bukan dari kehendak sendiri, tetapi seperti yang diminta oleh Roh dan yang, dengan demikian, melarang penafsiran yang sewenang-wenang.
Semantic Content
Sebab siapakah yang menasihati telah mengetahui Nous Tuhan
τίς γὰρ ἔγνω νοῦν κυρίου, ὃς συμβιβάσει αὐτόν dikutip oleh Rasul Paulus dari Yesaya 40:13 versi Septuaginta τίς ἔγνω νοῦν κυρίου καὶ τίς αὐτοῦ σύμβουλος ἐγένετο ὃς συμβιβᾷ αὐτόν, “Siapa yang mengetahui nous Tuhan dan siapa yang bisa menjadi penasihat-Nya sehingga bisa menasihati Dia? Rasul Paulus juga mengutip ayat ini di Roma 11:34. Tentang apa itu nous dapat dipelajari di: https://hendisttrii.wordpress.com/2019/10/10/nous-di-dalam-philokalia/ Kutipan ini hendak menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui nous Allah sebab Allah itu jauh melampaui kapasitas nous manusia. Allah itu sungguh amat dalam kekayaan, hikmat, dan pengetahuan-Nya sehingga sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya (Rom 11:33). Sehingga Allah yang tak terselami oleh nous manusia itu adalah Allah yang transenden bagi manusia seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes bahwa tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah (Yoh 1:18). Seperti kata Evagrius dari Pontus bahwa, “God cannot be grasped by the mind. If he could be grasped, he would not be God.” (Evagrius of Pontus, Migne, Patrologia Graeca [= PG] 40:1275C). Allah yang demikian adalah Allah yang misteri bagi manusia dan tidak ada seorang pun yang memiliki nous Allah.
Kami memiliki nous Kristus Namun, bagian selanjutnya Rasul Paulus menulis, ἡμεῖς δὲ νοῦν Χριστοῦ ἔχομεν, “Tetapi kami memiliki nous Kristus.” Ini menyatakan bahwa selain Nous Allah ada Nous Kristus. Dan Nous ini dimiliki oleh para Rasul atau murid Kristus. Apa itu Nous Kristus? Apakah sama dengan Nous Allah? Menurut Rasul Yohanes, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan- Nya” (Yoh 1:18). Teks ini jelas bahwa Allah Bapa bisa dikenal oleh manusia hanya melalui Anak yaitu Yesus Kristus sebab Dialah yang menyatakan atau menyingkapkan siapa Allah tersebut. Sehingga hanya melalui Kristus manusia bisa mengenal Allah. Rasul Yohanes juga menulis, “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan” (Yoh 12:49; lihat juga Yoh 8:26,28). Apa yang Yesus katakan atau ajarkan kepada para murid-Nya adalah perkataan dari Allah sehingga ajaran Yesus adalah ajaran Allah. Hal ini dipertegas lagi oleh Rasul Yohanes, “Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku” (Yoh 8:28). Sehingga Nous Allah yang tidak terselami oleh manusia itu ternyata dinyatakan oleh Kristus kepada para murid-Nya. Pengenalan akan Allah seperti ini adalah paradoks. Allah yang jauh melampaui nous manusia ternyata pada saat yang sama dekat karena Kristus. Kata Kallistos Ware, “This God of mystery is at the same time uniquely close to us, filling all things, present everywhere around us and within us. And he is present, not merely as an atmosphere or nameless force, but in a personal way. The God who is infinitely beyond our understanding reveals himself to us as person: he calls us each by our name and we answer him. Between ourselves and the transcendent God there is a relationship of love, similar in kind to that between each of us and those other human beings dearest to us. We know other humans through our love for them, and through theirs for us. So it is also with God” (The Orthodox Way). Misteri Allah hadir di dalam Pribadi Kristus dan kasih Kristus kepada manusia sehingga manusia bisa mengenal Allah melalui Kristus. Kemudian para murid-Nya menangkap nous Kristus melalui pertolongan Roh Kudus. Seperti yang dijelaskan oleh Rasul Yohanes, “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:26). Itu sebabnya Rasul Paulus menyatakan bahwa kami memiliki nous Kristus yang diajarkan oleh Roh Kudus (lihat juga 1 Kor 2:13). Kemudian para Rasul yang memiliki nous Kristus ini disebut sahabat Kristus (Yoh 15:15) dan mengajarkannya kepada segala bangsa menjadi Gereja seperti Rasul Paulus mengajarkannya kepada orang-orang di Filipi untuk memiliki Nous Kristus (Fil 2:5). Nous Allah yang tidak terselami sekarang telah dinyatakan oleh Kristus kepada para Rasul dan dari para Rasul kepada Gereja. Benar yang dikatakan oleh Bapa Gereja St. Ambrosius bahwa orang percaya adalah mereka yang ambil bagian dalam hikmat ilahi (Catena Aurea). St. John Chrysostom menyatakan bahwa hal-hal yang berasal dari Allah dinyatakan oleh Kristus kepada orang percaya namun tidak semua hal ilahi melainkan hal-hal spiritual saja (Catena Aurea). Rasul Paulus menyatakan, “Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Kor 2:9). Rasul Yohanes menyatakan bahwa hal-hal spiritual ini adalah hal-hal yang menuntun manusia kepada hidup kekal yaitu bagaimana manusia bisa bersekutu atau menyatu dengan Bapa dan Anak (lihat 1 Yoh 1:1-4). Jadi, ketika Rasul Paulus menulis kami memiliki Nous Kristus ini artinya kami memiliki Nous Allah yaitu hal-hal yang menuntun kepada hidup kekal atau menyatu dengan Dia dan ini adalah sesuatu yang masih misteri karena belum pernah dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga kita (lihat juga 1 Kor 13:12). St. Oecumenius menyatakan, “The “mind of Christ” refers to the Father. Paul is saying that we have the Father of Christ in us” (Catena Aurea). Memiliki nous Kristus berarti memiliki hikmat Allah (lihat 1 Kor 2:6-7) dan melalui Roh Kudus nous Kristus itu disampaikan kepada manusia (lihat 1 Kor 2:10-11). Namun sisi lain apa yang diketahui oleh kita tetaplah sebuah misteri: “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1 Kor 13:12). Ware menyatakan ini adalah pengenalan akan Allah yang seimbang antara apa yang misteri dan yang disingkapkan kepada kita: “To point at the mysterium tremendum, we need to use negative as well as affirmative statements, saying what God is not rather than what he is. Without this use of the way of negation, of what is termed the apophatic approach, our talk about God becomes gravely misleading. All that we affirm concerning God, however correct, falls far short of the living truth. If we say that he is good or just, we must at once add that his goodness or justice are not to be measured by our human standards. If we say that he exists, we must qualify this immediately by adding that he is not one existent object among many, that in his case the word “exist” bears a unique significance. So the way of affirmation is balanced by the way of negation” (The Orthodox Way). Pengenalan Allah ini juga seperti pengenalan yang penuh misteri. Ware menyatakan, “A mystery is, on the contrary, something that is revealed for our understanding, but which we never understand exhaustively because it leads into the depth or the darkness of God. The eyes are closed—but they are also opened. Thus, in speaking about God as mystery, we are brought to our second “pole.” God is hidden from us, but he is also revealed to us: revealed as person and as love” (The Orthodox Way). Disingkapkan bahwa Allah adalah kasih namun menjadi misteri bagi kita karena kasih Allah yang demikian tidak bisa diukur dengan pengertian atau pemahaman kita yang terbatas seperti penjelasan Ware di atas. Pada akhirnya, untuk apa kita mengenal nous Allah dan Kristus ini? Rasul Yohanes menyatakan bahwa apa yang ia beritakan dan tuliskan adalah supaya setiap orang bisa percaya pada Kristus dan memperoleh hidup kekal yaitu pengenalan dan persekutuan dengan Allah dan Kristus (lihat Yoh 20:31; 17:3; 1 Yoh 1:1-4). Sebab itu belajar Teologi (mengenal Allah) adalah untuk mengalami pertobatan setiap hari yaitu pengudusan hidup untuk menjadi semakin serupa dengan Anak-Nya. Seperti kata Rasul Yohanes, “Saudara- saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1 Yoh 3:2 Mari kita memiliki sikap seperti Rasul Paulus dalam pelayanan, “ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.” (2 Korintus 6:8 Untuk lebih mengetahui Nous Allah kita perlu bersinergy dengan Kristus. Itulah cara kita untuk mengetahui Pikiran Allah melalui Anak-Nya yang tunggal yang telah menjadi manusia. Kita lihat dalam kita Filipi 2:13. 1. Allah adalah Sang Pemberi Energi ke dalam diri kita untuk mengerjakan keselamatan kita Allah kita adalah Allah yang ὁ ἐνεργῶν dan ini artinya Allah adalah sumber energi atau energeia ilahi itu. Energeia Allah ini yang bekerja atau ἐνεργέω di dalam segala sesuatu yang Dia ciptakan (Efe 1:11), yang membangkitkan Kristus (Efe 1:20) termasuk mengerjakan keselamatan kita. Jadi, energi ilahi ini adalah energi yang menggerakkan atau membuat seluruh alam semesta itu ada (energi yang menciptakan dari tiada menjadi ada), yang membangkitkan Kristus (energi yang memberi kehidupan dan mengalahkan kematian), dan menyelamatkan manusia (energi yang memindahkan manusia dari gelap kepada terang). Dalam kehidupan kita sehari-hari adalah yang memberi kita kekuatan adalah Kristus sendiri, untuk mengerjakan segala seuatu dan yakni Kristus yang memberikan kita keselamatan. Jika kita telah menyatu dengan Kristus mudah kita mengerjakan kesematan kita jika kita sudah mengetahui Nous Allah melalui Nous Kristus maka kita perlu bersinergi dengan Kristus sehingga kita juga bersinergi dengan Allah. Ilustrasi seperti lampu kalau lampu itu tidak bersinergy di listrik maka tidak akan nyala lampu tersebut dan kalau sudah tersambung dengan listrik maka lampu akan nyala. Begitu pula dalam kehidupan kita sehari-hari kalau kita tidak bersinergi dengan Kristus maka kegelapan yang akan menguasai hidup kita ini bukan terang Kristus sehingga kita tidak tahu apa yang perlu kita kerjakan sebab kegelapan sudah mengusai hidup kita. Jadi dalam kehidupan kita ini yakni hidup untuk Kristus dan terus bersinergi dengan Kristus sehingga kita mengerjakan keselamatan kita. Energi ilahi yang berasal dari Allah mengalir ke dalam diri kita yang sedang mengerjakan keselamatan. Energi ilahi diberikan Allah supaya setiap orang beriman dimampukan atau bisa mengerjakan keselamatannya sendiri (lihat Fil 2:12). Energi itu diperlukan untuk mengeluarkan keselamatan yang ada di dalam diri anak-anak Allah. Keselamatan itu kita terima pada saat benih iman kita menyatu atau dikawinkan dengan benih Allah (Rom 7:4) yaitu pengorbanan Kristus yang mati, dikubur, dan bangkit dalam baptisan (lihat Rom 6:3-5) sehingga melahirkan benih ilahi dan kita disebut lahir dari Allah menjadi anak-anak Allah. Anak-anak Allah lahir dari Allah dan memiliki benih ilahi di dalamnya (1 Yoh 3:1,9). 2. Energi dari Allah itu mengalir ke dalam kehendak dan energi kita untuk kesenangan-Nya. Untuk mengerjakan keselamatan yang masih dalam wujud benih ilahi itu atau mengeluarkan dunamis Kristus itu maka kita perlu dicas atau diberi energi oleh Allah (Fil 2:13). Ibarat sebutir telur ayam yang dierami oleh induknya sehingga telur itu bisa menetas maka kita perlu dierami oleh energi panas ilahi supaya kekuatan yang ada di dalam cangkang hati kita bisa menetas untuk mengalahkan dosa dan hidup dalam terang. Energi yang disalurkan oleh Allah adalah energi ilahi itu dalam wujud yang kita sebut anugerah atau rahmat ilahi atau kasih karunia Allah. Energi itu adalah perpaduan dari energi Allah dan kehendak atau kemauan bebas kita. Dan inilah yang sering kita sebut sinergi. Seperti yang telah saya tulis tadi di pon yang pertama tentang lampu yang bersinergi ke listrik jadi lampu itu memiliki energy. Jika kita sudah bersinergy dengan Kristus yakni kita telah mengalahkan kedagingan kita dan menerima Anugerah dari Kristus sehingga dalam kehidupan kita selalu terpancar terang. Dan setelah kita menerima Anugerah dari Kristus kita bisa mengerjakan keselamtan kita dengan iman kita sebab kegelapan sudah di kalahkan oleh terang yang ada dalam hati kita. Seperti yang di tulis St. Maximus Sang Pengaku juga menyatakan bahwa manusia memiliki 2 sayap yaitu kebebasan (kehendak bebas) dan anugerah. Ketika kebebasan kita seturut atau sejalan dengan anugerah Allah maka ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mengerjakan keselamatan dalam wujud ketaatan.
Obedience Dengan mengetahui Nous Allah adalah tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui Nous Allah sebab Allah itu jauh melampaui kapasitas nous manusia. Sebab Allah itu misteri tidak bisa membatasi ruang dan waktu, Allah itu sungguh amat dalam kekayaan, hikmat, dan pengetahuanNya. Sehingga Allah yang tak terselami oleh nous manusia itu adalah Allah yang transenden bagi manusia. Walaupun kita tidak melihat secara kaca jasmani Nous Allah tetapi kita bisa merasakan dengan dan melihat Nous Allah melalui Nous Yesus Kristus sehingga hanya melalui Kristus manusia bisa mengenal Allah. Tetapi bukan hanya mengeanli nous Kristus saja tetapi kita yakni percaya dan mengenal siapa Kristus itu yakni jika kita mengetahiu Nous Kristus berarti kita mengenali Nous Allah melalui anak-Nya yang telah Dian utus kedalam dunia ini. Dalam mengetahui pikiran/Nous Kristus kita perlu memiliki Energeia dalam (Filipi 2:13). Sehingga kita bisa mengenali pikiran Kristus dengan lalui pikiran Kristus sebab Kristus adalah telah berinkarnasi menjadi manusia yakni Kristus mempunyai daging seperti yang seperti daging kita makanya manusai mudah mengenali pikiran Allah dengan melaui pikiran Kristus. Tetapi dengan semua itu tidak mudah mengetahui saja pikiran Allah dengan pikiran Kristus yakni kita bersinergi dengan Kristus dan percaya kepada-Nya sehingga kita memperoleh energy itu seperti yang terulis di Filipi 2:13. Marilah kita tetap bersinergi dengan Kristus, sehingga kegelapan yang ada dalam diri kita kita bisa kalahkan jika kita telah bersinergi dengan Kristus dan semua kedagingan kita telah kita menyatu dengan Kristus dan menerima Anugerah-Nya, berdoa, pada Firman yang telah tertulis dalam kitab suci. Jika kita tidak mengetahui Nous Allah sebab Allah itu tidak bisa di lihat oleh siapanpun selain dari Kristus, sebab Allah adalah tidak membatasi ruang dan waktu tetapi jika manusia telah menyatu, percaya bersinergi dengan Kristus dan melalui Kristus manusia bisa mengenal Nous Allah. Jadi marilah kita tetap bersinergi, berdoa, memiliki terang Kristus, berdoa dan mengerjakan Keselamatan kita. Secara jasmani kita bisa lihat tetapi dengan secara spiritual kita bisa rasakan. Tujuan manusia hidup didunia ini adalah untuk mengerjakan keselamayannya dan menyatu dengan Kristus, Amin.

Leave a comment