Tugas 1 & 2 Studi Pb Roma-Filipi

Dian Purmawati Waruwu

Study PB 3 & 5

Semester IV

Tugas 1&2

Tiga prinsip membaca Alkitab
 Historia artinya sejarah, bahasa aslinya, literal meaning ( focus pada teks) 1. Teks yunani BYZ atau NA28 2. Syntantic form/surface structure dan penjelasan 3. Terjemahan literal 4. Syntantic point dari terjemahan literal di atas
 Theoria artinya spiritual meaning (Beyond the text) 1. Semantic contenc (Christ centered dan Ecclesial; typology/Allegory): membuat semantic points atau deep structure dari setiap syntantic points di atas melalui interaksi dengan kitab2 perjanjian lama dan perjanjian baruyang terpusat kepada pribadi Kristus (Christ centered) dan tradisi gereja dan paradosis seperti tulisan2 church (Ellesial)/ patristic Hermeneitucs 2. Ringkasan dalam bentuk outline kosep Teologis yang terdiri atas satu ide utamadab beberapa ide pendukung 3. Kesimpulan sebagai doktrin/Didaskalia yang diturunkan ke dalam hati (kardia) untuk memperbaharui Nous (mata hati), jiwa, dan tubuh kita (personal).
 Moral: Dispassion & Good Works )( focus pada askesis sehari-hari) Obedience: ketaatan pada jiwa dan tubuh kita sebagai aplikasi dari doktrin di atas untuk mencapai kesucian hati (dispassion/kematian nafsu daging) dan perbuatanperbuatan baik/kasih (love) dengan cara menyatakan kesalahan (reproof), mmemperbaiki kelakuan (correction), dan mendidik dalam kebenaran (instruction in righteousness)
Empat Prinsip membaca Alkitab Perjanjian Baru menurut Kallistos Ware:
1) Christ centered (Typology)
2) Ecclesial
3) Personal
4) Obedience Dalam membaca kitab suci, lima hal yang kita temukan ketika kita membaca kitab suci 1. Doktrin/ didiaskalia (semantic content) 2. Reproof (personal) 3. Correction (personal) 4. Instruction ini righteousness (personal) 5. Good Works (obedience) Kelima hal itu yang menuntun kita kepada keselamatan melalui iman kepada Kristus. Dengan kata lain ketika kita membaca kitab Suci kita menemukan Kristus dengan kacamata
iman. 2 Tim 3: 14-16, waktu Timotius membaca Alkitab maka ia mendapat hikmat dan keselamatan dan menuntun kepada Kristus dengan melalui iman dari situ kita mendapat keselamatan. Iman kepada Kristus maka mencapai keselamatan, keselamatan itu Kristus, akan tetapi alkitanb bukan hanya di baca saja melainkan untuk menemukan Kristus. Di balik teks yang kita baca ternyata ada Kristus artinya menuntun kita dengan iman sehingga setiap orang memperoleh keselamatan/ adanya doktrin, menyatakan keselahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran sehingga menghasilkan good works. Waktu Timotius membaca kitab itu maka ia menemukan doktrin atau ajaran, dan waktu kita diajari dengan doktrin maka berbagai doktrin yang diajari kita yaitu doktrin dosa, doktrin keselahan kebenaran dan lain sebagainya. Kehidupan Timotius memperoleh good works yakni menuntun keselamatan yaitu Kristus tetapi tidak cukup dengan membaca yakni ada pertumbuhan tentang Kristus. Seluruh kitab suci di ilhamkan Allah artinya ini bukan tulisan/inspirasisi Roh kudus lalu roh kudus itu mengajarkan tentang kebenaran. Yoh 14: 16, mengajarkan segala sesuatu yaitu apa yang di ajarkan Yesus/perkataan Yesus juga disebut logos Kristus. Di ilhamkan Allah; berasal dari Bapa> Kristus Roh Kudus> logos Kristus gereja Alkitab. Maka spiritual meaning kita adalah Kristus. 2 Petrus 1:20-21,kitab suci tidak boleh di tafsir oleh kehendak sendiri? Kenapa? Sebab yang kita baca adalah oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Alkitab bukan didikte tetapi dengan pengilhaman yaitu pikiran manusia bersinergy dengan pikiran Roh kudus maka itu semua adalah melalui doa, setiap manusia minta kepada Kristus untuk menemukan ajaran/doktrin Kristus. Sebab doa dengan roh kudus adalah sama jadi setiap manusia hanya melalui doa saja agar dapat hikmat kepada Kristus. Yoh 20:30-31 berarti kita di selamatkan artinya supaya gereja supaya memperoleh hidup. 1 yoh 1 :1-2; apa yang di tulis oleh Yohanes dengan tulisan mereka yaitu dengan firman, firman itu siapa? Yaitu Kristus. 1 Yoh 1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Jadi jika semua manusia diselamatkan maka harus mengerjakan keselamatan dengan doktrin Kristus atau ajaran Kristus yang telah di tulis di alkitab, tetapi dengan menemukan doktrin Kristus kita terlebih dahulu berdoa dan bersinergi dengan Kristus sehingga setiap manusia memperoleh keselamatan yang kekal dari Kristus. filipi 2:13; Allah sumber energi. Energi apa? Yaitu didalam segala sesuatu seperti yang ada di alam semesta ini. Ketika berbicara tentang Alkitab, kita harus melihat apa yang tersurat dan tersirat, apa yang ilahi dan manusiawi, diterjemahkan Kristus adalah Theanthropos: Allah sejati dan manusia sejati. Ini merupakan pemikiran St. John Chrysostom tentang Alkitab. Maximus sang Pengaku juga menyatakan, “Perjanjian Lama adalah tubuh dan Baru adalah jiwa, makna di dalamnya, roh. Dari sudut pandang lain kita dapat mengatakan bahwa seluruh Kitab Suci yang kudus, Perjanjian Lama dan Baru, memiliki dua aspek: konteks historis yang sesuai dengan tubuh, dan makna yang dalam, tujuan di mana pikiran harus diarahkan, yang sesuai dengan jiwa. Jika kita memikirkan manusia, kita melihat mereka fana dalam sifat-sifatnya yang kelihatan tetapi abadi dalam sifatsifatnya yang tidak kelihatan. Terdapat 3 lapisan makna dari Alkitab: Lapisan pertama adalah literal dan tiga lapisan adalah spiritual yaitu alegori, tropologi, dan anagogi. Alegori tyang secara etimologi berarti “perkataan lain,” termasuk tipologi merujuk kepada hal-hal spiritual yang dipercaya Gereja, yang berkorelasi dengan nilai “iman.” Tropologi merujuk kepada nilai-nilai etis dan kebenaran normatif bagi kehidupan individu, yang berkorelasi dengan nilai “kasih.” Anagogi berkaitan kepada ekspektasi terhadap hal-hal yang akan terjadi di masa datang dan bersifat eskatologis, yang berkaitan erat dengan nilai “pengharapan.” Mengapa 3 Prinsip? Karena ada tiga tingkatan dalam ontologi psikis individu, apakah kita menyebut tubuh, jiwa, dan roh itu dengan Paul atau jiwa yang lebih rendah, jiwa yang lebih tinggi, dan nous bersama dengan para Origenes. Atau untuk mengambil sudut yang sedikit berbeda, itu karena ada juga tiga tingkat simbolis inisiasi di dalam gereja, yang diberikan teks sebagai sakramen keselamatan. Seperti kata Paul, susu diperlukan untuk bayi, makanan padat untuk mereka yang lebih dewasa, dan Logos pada akhirnya cukup untuk makanan yang sempurna. (MacGuckin, “Metafisika Eksegetikal Origen dari Aleksandria”, 13-14). Pembacaan atas tiga atau empat lapisan ini bukan berarti selalu ada tiga atau empat makna yang berlainan dalam satu teks, melainkan ada empat lapisan atau dimensi yang mengarahkan pembacaan kepada makna yang semakin mendalam.
Historia (Literal dan Historical Meaning) Pembacaan atas tiga atau empat lapisan ini bukan berarti selalu ada tiga atau empat makna yang berlainan dalam satu teks, melainkan ada empat lapisan atau dimensi yang mengarahkan pembacaan kepada makna yang semakin mendalam. Historia adalah istilah reguler yang digunakan oleh semua sekolah untuk menunjuk kata-kata harfiah atau peristiwa aktual. Catatan sederhana tentang fakta-fakta ini, atau pengertian literal, digunakan oleh Gregory dan yang lainnya dalam tradisi Aleksandria untuk semua jenis sastra dan bukan hanya untuk narasi “historis”. Diperlukan untuk melakukan studi sejarah kita dapat melakukan beberapa langkah eksegesis yaitu: 1. Teks asli (PB: Nestle Aland edisi 28 atau Byzantine Text Form edisi 2005; PL: Septuaginta (LXX) atau Ibrani versi The Biblia Hebraica Stuttgartensia edisi the Masoretic Text of the Hebrew Bible) 2. Syntactic Form/Surface Structure (Struktur Teks) 3. Terjemahan Literal 4. Syntactic Content (Isi Sintaksis berupa klausa-klausa dari terjemahan literal) 5. Konteks Historis
Theoria (Spiritual atau Mystical Meaning) Kristus dan Gereja-Nya yang menjadi spiritual meaning yang tersembunyi di balik historia. Apa maksudnya? Berikut beberapa penjelasannya. Salah satu kesamaan antara penafsir Yahudi dan Kristen kuno adalah bahwa mereka berdua memandang Alkitab sebagai dokumen rahasia yang dikodifikasikan. Dengan kata lain, makna sebenarnya tersembunyi di luar apa yang dikatakan di permukaan teks. Peran utama penerjemah adalah menguraikan makna tersembunyi itu. Para Bapa gereja rupanya mengamati asumsi-asumsi ini, yang dibahas di atas, bersama dengan kepercayaan dasar mereka bahwa Yesus, Tuhan yang ditinggikan, adalah kunci utama yang dapat membuka ruang terkunci di dalam Alkitab. Kristus adalah satu-satunya yang dapat mengambil “tabir” dan membiarkan para pendengar Hukum memahami makna utamanya (2 Kor 3: 15-16). Kemudian, karena semua Kitab Suci berasal dari penulis ilahi tunggal, yang memiliki skopos tunggal (atau tujuan keseluruhan) yang Roh ingin capai dalam teks suci, semua bagian Alkitab memiliki referensi diri sendiri. Apa pun waktu komposisi mereka atau perbedaan mereka sebagai perpustakaan besar karya, mereka semua bersatu dengan pesan kolektif dan terhubung. Untuk memahami bagian yang tidak jelas, oleh karena itu, orang dapat secara sah beralih ke bagian yang lebih jelas di tempat lain untuk menjelaskan, bahkan sebuah buku yang berbeda: Kitab Suci menafsirkan Kitab Suci. (MacGuckin, “Metafisika Eksegetikal Origen dari Aleksandria”, 9-10). Mengapa dipandu oleh Bapa-bapa Gereja? St. Ignatii Brianchaninov memberi jawab: “Anda bertanya: Mengapa perlu membaca Bapa Suci? Apakah tidak cukup untuk dibimbing oleh Kitab Suci sebagai Firman Allah yang murni, tanpa campuran kata-kata manusia? Dan saya menjawab: Membaca Tulisan Suci, kita juga harus membaca Bapa Suci Gereja Timur. Santo Petrus mengatakan ini mengenai Kitab Suci: “Tidak ada nubuat dari kitab suci yang memiliki interpretasi pribadi. Karena nubuat itu datang pada zaman dahulu bukan karena kehendak manusia, tetapi orang-orang kudus Allah berfirman ketika mereka digerakkan oleh Roh Kudus ”(II Petrus 1:20, 21). Jadi bagaimana Anda ingin menafsirkan secara sewenang-wenang kata-kata spiritual yang diucapkan bukan dari kehendak sendiri, tetapi seperti yang diminta oleh Roh dan yang, dengan demikian, melarang penafsiran yang sewenang-wenang. Rohlah yang mengucapkan Kitab Suci, dan hanya Dialah yang dapat menafsirkannya.
Moral (Good Works) Ware menyatakan seperti teladan Bunda Maria, “Dalam semua ini Perawan berfungsi sebagai cermin dan ikon hidup dari orang Kristen yang alkitabiah. Mendengar firman Tuhan, kita harus menjadi seperti dia: merenungkan, menyimpan semua hal ini di hati kita, melakukan apa pun yang Dia katakan kepada kita. Kita harus mendengarkan dalam ketaatan sementara Tuhan berbicara. (Kallistos Ware, Cara Membaca Alkitab) Alkitab selalu dianggap sebagai buku instruksi (1 Kor 10:11). Karakter didaktik ini menjadikan Alkitab sebuah karya yang memiliki relevansi luar biasa bagi para pembacanya. Tidak seperti sampel literatur kuno lainnya (mis., Epik penciptaan Babel Enuma elish), Alkitab kurang lebih mengajak para pembacanya untuk mengambil sikap, mengikuti ajarannya, memodelkan hidup mereka sesuai dengan contoh-contoh bagus yang diajukan. (Pentiuc, Perjanjian Lama dalamTradisi Ortodoks Timur, 172)
Ringkasan Tiga lapisan makna Alkitab yaitu: 1. Sarkic: Teks dan Historis. Teks terbagi atas: teks asli, syntactic form, terjemahan literal, dan syntactic content. Historis yaitu konteks pada saat penulisan. 2. Noetic: Christ Centered & Ecclesial (semantic content), dan Personal (kardia).
Spiritual meaning menghasilkan doktrin atau didaskalia untuk reproof, correction, dan
instruction in righteousness. Spiritual ini menuntun kita pada keselamatan di dalam Kristus (baca 2 Tim 3:15-17). 3. Psychic: Obedience atau Moral Ketaatan pada doktrin untuk melakukan good works (2 Tim 3:16-17).
Kesimpulan Kunci untuk interpretasi ya

ng bijak adalah karunia cahaya dari Logos: makna tidak hanya diberikan; itu harus dicari secara asketis dan intelektual. Aturan lain adalah aksioma opou logos agei-nya yang terkenal: kita harus pergi kemanapun Logos menuntun kita. Ini tentu saja merupakan pelesetan yang disengaja pada makna Logos sebagai Firman Ilahi, rasionalitas, dan proses sistematis. Jadi penafsiran adalah pertemuan dengan Firman, dan karena itu wawasan intelektual dan ketajaman adalah bagian dari sakramentalitas. (MacGuckin, “Metafisika Eksegetikal Origen dari Aleksandria”). Alkitab berisi kekuatan soteriologis yang hidup dan Tujuan sebenarnya dari pelajaran Alkitab adalah untuk memberi makan kasih kita bagi Kristus, untuk menyalakan hati kita dalam doa, dan untuk memberi kita bimbingan dalam kehidupan pribadi kita. jadi setiap orang yang membaca kitab suci adalah dengan mengarahkan dalam doa supaya Roh kudus yang membimbing kita sehingga kita tahu apa yang dikatakan dalam teks tersebut bukan hanya menafsir saja tetapi bagaimana menghidupkan teks teks tersebut dan Pada akhirnya yang paling penting adalah Alkitab menuntun kita pada keselamatan di dalam Kristus kita bisa baca dalam 2 Tim 3:15.

Leave a comment