NAMA : DIAN PURMAWATI WARUWU
TINGKAT : II
SEMESTER : III
MATA KULIAH : DOGMATIKA II
TUGAS : KE-9
Fondasi à Kristus= Allah Tritunggal, inkarnasi= pengakuan iman nikea. Setelah itu adanya karya keselamatan yaitu penebusan (Historià universal, Spiritual/Theoriaàpersonal). Dengan secara personal kita juga mengalami iman ditambah dengan perbuatan, pengharapan dan kasih.
Fondasi adanya purifikasi/ Askesis dan kontemplasi/ inkarnasi melalui dispassion yaitu pengendalian daging, dikuburkan/ manusia lama dan Virtues yaitu kebangkitan dengan hidup bagi Allah sehingga disebut manusia baru.
The way of life kita adalah dengan askesis à Theosis dengan membawa kita untuk kemuliaan Allah. Proses ini yang harus kita alami dengan synergy , berdoa , nepsis, askesis dan lain – lainnya. Sehingga kita bisa mengendalikan kedagingan manusia lama kita dengan menjadi manusia baru jadi kita semakin serupa dengan Kristus.
Spiritual adalah menuju kepada spirit atau roh yang ada dalam diri manusia Sehingga dipenuhi oleh Roh kudus. Spiritual adalah batin, jiwa, roh manusia. Kita dipenuhi Roh kudus maka kita disebut manusia Rohani dengan menyatu dengan Allah dan disebut Theosis. Ada dua hal membersihkan passion dan mencapai kebajikan atau virtues. Kata lain spiritual juga melawan kedagingan atau manusia lama kita dengan menyalibkan dan membersihakan passion dan menuju virtues sehinggan kita semakin serupa dengan Kristus. Hati juga harus dijaga dimana di Alkitab telah dituliskan “dimana hartamu berada distulah hatimu berada”.
The Aim adalah mencapai theosis untuk mencapai itu ciri spiritualitas adalah akan penyatuan kepada Allah dengan lewat karya Roh kudus yang bersinergy. Bukan hanya kerja kita sendiri melainkan Roh kudus yang bekerja sehingga memiliki synergy (terang) dengan melawan kegelapan. Tujuan akhir DEIFICATION – THE UNCREATAD LIGHT kita harus punya energy-Nya / energy ilahi seperti matahari kita bisa menikmati cahayanya tetapi kita tidak bisa menjadi matahari melainkan hanya menikmati terangnya begitu pula kehidupan kita, mungkin kita tidak bisa menjadi Allah melainkan kita bisa menikmati energy ilahi-Nya dengan Karya Roh kudus-Nya. It is though our psarticipasion in this uncreated light that we become deified, become like Christ.
The Essential 1 kor 9:24-27 maksudnya adalah perlombaan lari yaitu injil, sehingga memperoleh kehidupan itulah Askesis. 2 Tim 2:5,15 hidup yang berkenan kepada Allah, itulah gambaran yang diberikan kepada kita oleh rasul Paulus. Itulah namanay This spiritual work and training is called asceticism. Tujuan asceticism bukan untuk mencapai natur bersih dari dosa tetapi juga harus membersihkan pikiran dari nafsu.
Asketik kita seperti mamatikan manusia lama kita secara bertahap bukan langsung. Tahapan-tahapan tersebut adalah serangkaian langkah-langkah. Asketism adalah latihan untuk pertumbuhan rohani kita yang menyiapkan kita untuk menerima terang yang tidak tercipta. Latihan-latihan asketik membuat latihan spiritualitas kita bertumbuh. Langkah-langkahnya adalah:
- Basis dasar menyatu dengan Allah yaitu kasih bukan pengetahuan.
Fr. Dimitru; kita mencapai persatuan dengan Allah bukan hanya dari pengetahuan atau pikiran saja tetapi kita merasakan kasih Allah. Natur kita tetap menjadi ciptaan tetapi kita menjadi seperti Sang Pencipta oleh karena anugerah Allah. Anugerah Allah adalah kasih Allah sendiri.
- Bekerja dalam komunitas supaya jiwa kita bertambah dewasa
Kita butuh gereja untuk pertumbuhan rohani kita. Kita bekerja bersama untuk membangun persatuan, melatih askesis kita. Kalau Roh Kudus seperti ibu rohani kita maka orang-orang dalam gereja adalah saudara-saudara spiritual kita. Kita harus bekerja dan berusaha supaya mendatangkan kebajikan dan kita mengerjakan itu semua di mulai dari diri kita sendiri. Seperti Yesus, Dia juga butuh komunitas seperti komunitas bersama murid-murid-Nya.
- Tangga naik berdasarkan kasih
Allah kita adalah kasih (Yohanes 3:16), dan Allah dalam Tritunggal adalah Allah yang saling mengasihi, dan kasih tersebutlah yang dicurahkan kepada manusia. Sekarang, kasih tersebut bekerja di dalam Allah Tritunggal dan di dalam gereja sebagai anggota Kristus. Spiritual yang semakin naik menuju kepada Allah hanya ada dalam gereja yaitu diri orang-orang percaya. JIka itu pendakian maka ada langkah-langkahnya yaitu:
- Praktikos; adalah untuk mengalahkan passions (mengalahkan nafsu) dan melakukan kebajikan sampai mencapai kasih Allah itu sendiri.
- Kontemplasi (iluminasi); berarti hidup kita hanya focus kepada Allah sendiri dan tidak lagi memikirkan nafsu-nafsu yang ada di dunia ini, yang dipikirkan yaitu bagaimana menyatu dengan Allah. Jiwa dan hatinya sudah bersih. Jiwa dan hati yang sudah bersih adalah orang yang sudah dapat melihat Allah, melihat terang Allah seperti para rasul. Seperti transfugarasi Yesus, itulah kontemplasi Yesus.
- Mistical knowledge; puncak kasih kepada Allah. Tidak menginginkan apa-apa lagi, hidup bagi Kristus mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Seperti Paulus, dia mengatakan “Darahku dicurahkan, aku tidak apa-apa”. Dalam tahap ini, kita sudah mencapai menyatu dengan Allah.
Passions
Apakah passion adalah sesuatu yang alami atau tidak? Fr. Dimitru mengatakan passion adalah sesuatu yang natural seperti keinginan makan, minum, seks, senang, sedih, marah, dll. Tetapi ada juga passions yang tidak natural, yaitu ketika passion kita mengontrol hidup kita sendiri. Passion yang natural itu jangan hanya bersifat tubuh jasmani saja, maksudnya passion tidak hanya memuaskan tubuh tetapi juga harus memuaskan jiwa kita. Passion natural harus digunakan dengan bijaksana untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika tidak digunakan dengan bijaksana maka itu dianggap sebagai passion yang tidak natural (hidup hanya untuk makan, seks, bersenang-senang) yang akibatnya adalah passion yang menguasai jiwa kita. Tubuh yang mengendalikan jiwa. Jiwa tidak berfungsi lagi sehingga sama seperti binatang. Kita menjadi tawanan hukum dosa (Roma 7:22-24).
Kita perlu membebaskan jiwa dari penguasaan tubuh. Jiwa kita ada tiga bagian yaitu intelek (nous), keinginan, dan emosi. Nous berfungsi untuk mengerjakan bagian rohani kita seperti doa, ibadah, dll. Intelek sama dengan pikiran, Tetapi bedanya adalah ketika otak/ pikiran kita mati tetapi intelek masih dapat mengingat segala sesuatu. The brain adalahs secara fisik tetapi mind adalah secara spiritual. Intelek, desire, dan emotionlah yang membebaskan jiwa dari tubuh sehingga jiwa kembali mengontrol tubuh dan nafsu kita.
Kebanyakan otak kita bekerja melalui panca indra sehingga banyak sekali godaan-godaan yang datang baik yang didengar, dilihat, dirasakan, dll, yang dapat menimbulkan passion.
Cara menghilangkan passions:
- Laparkan passion,
- Potong persediaan makanan passions.
St. Gregory of Nissan bertanya dari mana passion berasal? Passion ditanamkan dalam natur kita oleh Allah dan merupakan salah satu sifat kita yang netral atau yang bisa digunakan dan dilakukan dalam kebaikan atau pun dalam kejahatan. Passions berasal dari hati; intelek, desire, dan emotion.
Gregory Palamas menunjukkan bahwa passion yang terberkati adalah passion mengarah terhadap bagaimana passion melakukan kebajikan. Apakah dosa dari intelek? Intelek pada akhirnya biasanya jatuh pada kesombongan, desire menyerang keinginan tubuh kita seperti makan, seks, uang, dan emosi seperti kemarahan, kesedihan,dll.
Bacaan buku Formasi Rohani Fondasi Purifikasi Deifikasi 2019 “3.15Yohanes Damaskus: Kebajikan dan Dosa, halaman 408”.
Kebajikan dari jiwa yaitu keberanian, penilaian moral, pengendalian diri dan keadilan. Passion dari jiwa yaitu kelupaan, kebodohan, ketidaktahuan, kemalasan mengakibatkan nous kita digelapkan yang akhirnya jatuh dari berbagai macam passions dari jiwa yaitu penyembahan berhala, pengajaran palsu, penghujatan, murka, amarah, kegetiran, cepat marah, tidak tahu malu, tidak manusiawi, ketakutan, mengasihani diri sendiri, mudah putus asa tidak bersyukur, dll.